BERBICARA DI DEPAN UMUM

Konon, selain kematian, beberapa hal yang kerap ditakuti orang salah satunya adalah berbicara di depan umum. Benar nggak begitu?KATA PENGANTAR



Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga dapat menyusun dan terselesaikannya modul bimbingan dan konseling.
Modul bimbingan konseling ini disusun dengan menekankan dan mengembangkan kemampuan siswa yang dilandasi dengan pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk dapat mengembangkan kemampuan diri dalam berbicara di depan umum, sehingga siswa dapat melakukan komunikasi dengan orang lain.
Modul ini tidak mungkin dapat diselesaikan tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyelesaian modul ini.
Kami menyadari bahwa mudul ini masih banyak kekurangannya, oleh karena itu segala kritik dan saran untuk perbaikan modul ini kami terima dengan senang hati. Sebagai akhir kata kami berharap semoga modul ini ada manfaatnya bagi siswa.


Malang,

Penulis







DAFTAR ISI


Halaman
Kata Pengantar …………………………………………………………........… i
Daftar Isi ……………………………………………………………………….. ii
A. Pendahuluan ………………………………………………………………… iii
B. Prasyarat …………………………………………………………………….. iii
C. Petunjuk penggunaan modul………………………………………………… iii
D. Tujuan pembelajaran………………………………………………………… iv
E. Kompetensi………………………………………………………………….. iv
F. Rencana belajar ……………………………………………………………. Iv

Materi : Mengatasi rasa cemas
A. Hal-hal yang perlu di perhatikan untuk berbicara di depan umum ..………. 1
B. Prinsip Gaya dan Etika…………………………………………………….. 3
C. Tip perbaikan ……………………………………………………….. …….. 6

Kegiatan Siswa…………………………………………………………………. 7
Daftar Rujukan ………..……………………………………………………... 8










A. Pendahuluan
Bimbingan konseling merupakan layanan bantuan yang diberikan pada semua siswa yang membutuhkan layanan bimbingan. Dalam dunia pendidikan banyak di jumpai siswa yang mengalami permaslahan antara lain masalah pribadi, belajar, social dan karir. Maka dari itu perlu perhatian dari berbagai pihak untuk membantu siswa.
Hasil penelitian beberapa ahli mengatakan bahwa ketakukan sebagian orang untuk berbicara di depan umum lebih besar dibandingkan ketakutan untuk menghadapi kematian, sehingga banyak orang enggan dan kehilangan kepercayaan diri ketika harus berdiri berbicara di hadapan sejumlah orang.
Sudah bukan lagi masanya untuk menjadi remaja pasif setelah mulai sekitar 20 tahun lalu cara belajar siswa aktif dikampanyekan pemerintah, kini jadi remaja aktif tentu sudah seakan gerak reflek bagi anda semua. Siswa mungkin sering menderita demam panggung jika diperintah maju oleh guru. Gemetar, keringat dingin keluar, dan bicara pun tergagap-gagap. Saatnya siswa mengobati demam panggung itu. Bicara di depan umum merupakan ketrampilan yang sangat berguna.
Kita menyadari dan mengetahui betapa pentingnya layanan bimbingan konseling diberikan di sekolah dan sudah menjadi suatu kewajiban bagi konselor untuk memberikan layanan bimbingan di segala aspek perkembangan siswa. Disamping itu diperlukan kerjasama pihak lain untuk membantu siswa sehingga siswa mampu menentukan pilihan penyelesaian yang terbaik sesuai dnegna kemampuan diri dan dapat mengembangkannya secara optimal.

B. Prasyarat
Adapun syarat dalam memahami modul ini maka siswa diharapkan membaca materi terlebih dahulu, dengan membaca materi berbicara di depan umum dapat mengerti dan dapat menerapkan baik dalam
a. Pengenalan dan pemahaman dalam berbicara di depan umum
b. Pemahaman tentang manfaat berbicara di depan umum
c. Pemahaman diri tentang cara berbicara di depan umum


C. Petunjuk Penggunaan Modul
Agar siswa dapat memahami isi modul ini dengan mudah maka diharapkan siswa :
a. Membaca doa terlebih dahulu sesuai dengan keyakinan yang anda anut agar diberi kemudahan dalam mempelajari modul ini
b. Bacalah materi ini dengan konsentrasi penuh sehingga dapat cepat memahami isinya
c. Kerjakan lembar latihan siswa yang sudah disediakan pada lembar secara sungguh-sungguh dengan memberikan isian secara lengkap dan jelas.
d. Kerjakan secara mandiri tanpa harus melihat pekerjaan teman.
e. Bawalah sumber belajar yang lainnya guna mendukung penguasaan materi lebih luas.

D. Tujuan Pembelajaran
Siswa dapat memahami kemampuan dirinya dalam berbicara di depan umum sehingga dapat mendukung sikap bermasyarakatnya.

E. Kompetensi
a. Siswa memiliki kepercayaa diri dalam berbicara di depan umum
b. Memiliki nilai dasar untuk menerapkan kepercayaan diri dalam kehidupan melalui berbicara di depan umum
c. Siswa mampu bersosialisasi serta mengenal teman seusianya melalui berbicara di depan umum

F. Rencana Belajar
Rencana Belajar merupakan serangkaian rencana kegiatan yang akan kamu lakukan pada saat pelaksanaan pembelajaran berlangsung.







BERBICARA DI DEPAN UMUM



Konon, selain kematian, beberapa hal yang kerap ditakuti orang salah satunya adalah berbicara di depan umum. Benar nggak begitu? Banyak orang yang merasa dak-dik-duk, gemetar, bingung setengah mati ketika diminta atau punya tugas harus berbicara di depan umum.
Kebayang enggak, betapa tertekannya kita ketika merasakan sesuatu tetapi kita nggak bisa mengungkapkannya? Atau kita punya pendapat, tetapi kita enggak berani bersuara. Bagaimana cara mengatasi ketakutan bicara di depan umum? Kenapa kita harus berani berbicara? Kan pintar berbicara hanya dibutuhkan oleh teman-teman yang aktif di organisasi. Kita kan hanya orang biasa aja dan enggak minat ikutan organisasi. Apalagi punya cita-cita jadi pembicara atau penyiar radio?
Mungkin banyak dari kita yang berpikir begitu. Kita membayangkan bahwa terampil bicara hanya dibutuhkan oleh mereka yang beraktivitas di dunia yang kita anggap harus tampil ke depan. Asal tau aja semua yang kita lakukan adalah komunikasi.
Pertanyaannya adalah apakah perasaan demikian itu wajar, untuk membahas ini mari kita perhatikan hal-hal di bawah ini :
A. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk berbicara di depan umum
1. Pengalaman, siapa pun orangnya mau dia pembicara publik sekelas Indi Bareenz, Indra Bekti, Tukul Arwana atau pak ketua RT di tempat kita. Memiliki perasaan yang bisa disebut dengan bahasa dak-dik-duk ketika hendak berbicara di depan umum. Hanya memang kadar dan durasinya berbeda selain itu, jam terbang juga ikut andil besar di sini.
Orang seperti Tukul Arwana dan lain-lain tetap merasa dak-dik-duk tapi mungkin kadarnya sedikit, durasinya hanya berlangsung beberapa detik. Dengan pengalamannya dalam menghadapi publik selama ini. Rasa dak-dik-duk itu segera bisa dialihkan menjadi hal-hal yang dapat menghangatkan suasana.
2. Penguasaan materi
Kalau kita tiba-tiba ditodong untuk berbicara tanpa persiapan ini akan berpotensi membuat kita gelagapan. Bedanya, kalau kita sudah punya jam terbang tinggi, situasi dan kondisi demikian bisa kita cairkan dengan cepat. Tapi bila tidak,ini bisa membuat kita stress yang ditandai dengan keinginan untuk ke toilet, sakit perut, jantung berdetak terlalu cepat dan lain-lain.

Begitu juga kalaukita diminta berbicara tentang hal-hal yang kita sendiri tidak menguasainya. Meski kita sudah diberi waktu agak cukup untuk menyusun persiapan, tetapi kalau memang itu bukan bidang kita mau tidak mau ini kerap membikin kita bingung. Untuk orang yang sudah punya jam terbang tinggi. Kebingungan ini biasannya bisa diatasi dengan penyiasatan kreatif.
3. Audien dan suasana
Banyak orang yang merasa minder, dak-dik-duk atau bingung ketika harus berbicara di depan orang yang misalnya saja lebih senior, lebih tua, lebih pintar, atau lebih segala-galanya. Persepsi kita tentang audien juga ikut mempengaruhi. Persepsi kita tentang audien sebagai seperti macan, sementara kita mempersepsikan diri sendiri sebagai seperti kucing ya mana mungkin ada kucing yang tidak minder menghadapi macan. Jadi baik fakta dan persepsi juga ikut berperan.
Begitu juga dengan suasana setiap suasana baru membutuhkan adaptasi baru. Ini berlaku untuk semua manusia. Orang yang biasa menghadapi massa dalam jumlah kecil, butuh adaptasi baru ketika diminta untuk berbicara di depan massa yang jumlahnya banyak. Orang yang biasa mengajar di depan siswa atau mahasiswa, tetap butuh adaptasi baru ketika diminta untuk berbicara di depan masyarakat umum. Orang yang biasa berbicara dalam suasana yang alami, tetap butuh adaptasi baru ketika diminta berbicara dalam suasana yang benar-benar formal. Misalnya disorot kamera, direkam, ditayangkan melalui jaringan TV dan lain-lain.
Jadi merasa dak-dik-duk saat baru sekali atau dua kali berbicara di depan umum, saat menghadapi audien dengan segmentasi baru atau saat menghadapi suasana baru, itu semua wajar. Persiapan, penguasaan materi dan pengalaman menjadi kata kunci yang membedakan apakah kewajaran itu mengganggu atau tidak. Perlu disadari bahwa sebagai besar kita punya kepentingan untuk meningkatkan kemampuan dalam hal berbicara ini. Ini terlepas apakah kita menjadikan kemampuan ini sebagai profesi atau tidak. Kenapa? Ini karena banyak proses pekerjaan yang menuntut kita harus berbicara di depan umum (orang banyak). Misalnya presentasi, mengajar, mengarahkan melaporkan mendiskusikan dan lain-lain.

B. Prinsip, Gaya & Etika
Ada sedikitnya tiga hal yang perlu kita bedaka saat hendak berbicara di depan umum. Ketiga hal itu adalah:
1. Prinsip
Ketika disebut prinsip, maka yang dimaksudkan adalah serangkaian kaidah yang harus kita jalankan atau taati. Kalau tidak ini bakal menciptakan konsekuensi salah-benar. Beberapa prinsip umum yang perlu kita taati antara lain:
a. Visualisasi.
Ini masuk dalam persiapan. Visualisasi adalah membayangkan materi yang kita sampaikan, sistematika penyampaian, respon yang mungkin timbul dari audien, suasana yang kita harapkan untuk terjadi dan lain-lain. Untuk orang sudah punya jam terbang tinggi. Visualisasi ini barangkali cukup dilakukan dengan mengandalkan naluri atau alam bawah sadarnya. Pikirannya sudah terprogram untuk melakukan visualisasi secara otomatik. Tapi untuk pemula atau yang belum punya jam terbang tinggi, visualisasi ini poerlu dilakukan dengan cara yang khusus. Banyak yang menyarankan agar ditulis, dihafalkan, dipraktekkan dan dilakukan gladi kotor sampai gladi bersih di tempat tertentu. Misalnya kamar mandi, ruangan sepi atau kamar tidur. Terserah cara apapun yang pas buat anda, tetapi prinsipnya visualisasi ini harus dilakukan. Bahkan ada pengalaman saya yang mungkin bisa dijadikan pelajaran.
b. Tahu audien
Tahu audien akan membuat kita tahu materi yang bermanfaat untuk mereka. Tidak tahu audien akan membuat kita hanya berfikir untuk diri kita sendiri, padahal kita harus berbicara di depan umum. Secara prinsip dapat dikatakan bahwa orang akan tertarik pada hal-hal yang memang bermanfaat untuk dirinya. Kalau kita hanya berbicara tentang hal-hal yang hanya menarik untuk kita tetapi tidak menarik buat mereka, wah ini bisa gawat. Tahu audien akan membuat kita tahu strategi yang pas buat kita. Ada strategi yang berbeda antara kita harus berbicara di depan orang yang lebih atas, yang sama/selevel dan yang lebih bawah. Strategi ini akan kita temukan kalau kita tahu siapa audien kita. Kelompok mana audien kita, orang seperti apa audien kita dan seterusnya.

2. Gaya
Gaya adalah seni bagaimana kita mempresentasikan atau mengekspresikan materi. Gaya ini biasanya terkait dengan konsekuensi enak dan tidak enak. Bagi kita yang tidak memilih profesi sebagai public speaker, gaya ini mungkin bisa penting dan bisa tidak. Gaya ini biasanya selalu berubah, tergantung pengalaman, selera, jam terbang, penguasaan, kepribadian, karakter personal dan lain-lain.
Meski gaya ini variatif dan suka-suka kita memilihnya. Tetapi ada semacam rambu-rambu umum yang perlu kita perhatikan, ini antara lain:
a. Berbicara ngelantur kemana-mana
Ibarat masakan terkadang kita butuh bumbu-bumbu yang ikut menambah kenikmatan dan kelezatan. Tapi bila bumbunya ini terlalu banyak, nasib menunya bisa lain. Begitu juga dengan berbicara. Terkadang kita butuh bumbu-bumbu misalnya data, dalil, humor dan lain-lain. Tapi bila itu kebanyakan, ini akan mengalahkan materi utama yang ingin kita sampaikan. Apabila misalnya ngelantur itu mengkorupsi waktu orang lain, silahkan bergaya apa saja tetapi jangan sampai ngelantur.
b. Berbicara terlalu cepat atau terlalu lambat.
Terlalu cepat dapat membuat audien tidak mengerti dan tidak bisa mengikuti jalan pikiran dan materi yang kita paparkan. Jika ini menyangkut angka atau tanda penting ini bisa membuat orang ngelamun atau kurang semangat mengikuti kita. Idealnya kita perlu memperkirakan antara 80-100 kata dalam satu menit.
c. Suara terlalu tinggi atau terlalu rendah
Jangan meninggikan suara sampai dapat mengganggu audien tetapi juga jangan terlalu merendahkan suara sampai tidak jelas didengar. Sebisa mungkin kita perlu mengatur nada, irama dan tekanan, artinya ada beberapa hal yang perlu kita keraskan, datarkan dan rendahkan. Untuk yang sudah punya jam terbang tinggi ini biasanya terjadi secara otomatik. Tetapi untuk pemula, ini perlu kita latih dalam visualisasi.

d. Terlalu banyak gerak atau terlalu diam.
Gaya apapun yang kita pilih, itu suka-suka kita. Tetapi hendaknya kita perlu menghindari praktek overacting atau underacting (terlalu dia) sehingga terkesan seolah-olah tidak ada interaksi antara kita dengan audien. Karena itu ada saran agar kita bisa menatap satu persatu dalam hitungan detik supaya muncul interaksi.
3. Etika
Etika ini terkait dengan kepantasan dan ketidakpantasan; kesopanan dan ketidaksopanan. Beberapa hal yang sering dianggap etika umum dalam berbicara di depan publik itu antara lain :
a. Salah menyebut orang atau menyebut orang dengan sebutan/sapaan yang berpotensi dirasakan tidak enak, misalnya ibu yang gendut itu, mas yang kurus itu. Akan lebih baik kalau kita menyebut namanya saja ditambah dengan kata-kata yang memuliakan seperti pak, bu, mas.
b. Memberikan contoh yang menyinggung atau menyakiti orang terutama dari audien. Pilihlah contoh anekdot atau kiasan yang kira-kira dapat membantu penjelasan kita tetapi juga perlu kita pikirkan efeknya bagi orang lain.
c. Menganggap audien sebagai orang yang bodoh dan menganggap kita lebih jago. Ini biasanya tidak kita ucapkan lewat mulut, tetapi kita praktekkan melalui tanggapan atau penjelasan. Di depan orang banyak pertanyaan seperti apapun perlu kita tanggapi secara bijak dan dengan logika yang positif. Untuk menekan perasaan demikian hindari motif-motif untuk menonjolkan diri misalnya ingin dianggap orang hebat, orang pintar dan lain-lain. Batasi pikiran hanya berkesimpulan bahwa di situ kita hanya menjelaskan sesuatu dan bila ada yang kurang kita perbaiki.
d. Jauhi mannerisms, seperti garuk-garuk kepala, merapikan baju, mengusap muka, hidung, telinga, melihat dari atau sepatu dan lain-lain. Intinya kita perlu mengkondisikan diri se-informal mungkin tetapi perlu menghindari hal-hal kecil yang berpotensi dianggap sebagai ketabuan atau ketidakpantasan.




C. Tip Perbaikan
Ada sejumlah tip yang perlu kita terapkan sebelum naik bicara, antara lain:
1. Apakah materi yang akan kita jelaskan itu akurat atau belum. Lebih-lebih juka menyangkut soal angka atau uang. Presiden bambang Yudhoyono pernah diprotes berhari-hari karena catatan: menurut versi pemrotes beliau membacakan data kemiskinan yang tidak akurat.
2. Apakah materi yang akan kita sampaikan itu sudah jelas atau belum. Jelas di sini artinya menutup celah kesalahpahaman (misunderstanding)atau salah tafsir (misinterpretation).
3. Apakah materi yang kita sampaikan itu mengena atau tidak. Mengena di sini sesuai dengan tujuan. Kalau yang kita maksudkan itu tindakan. Ya perlu diarahkan pada tindakan. Begitu juga kalau yang kita inginkan adalah penjelasan, pemahaman, pemikiran atau keadaa. Ini perlu kita cek agar bisa mengena sasaran.
4. Apakah cocok dengan keadaan atau tidak. Protes penolakan dan reaksi emosional memang kerap kali muncul tetapi hendaknya kita perlu menyusun materi yang dapat menghindarkan kita dari situasi demikian. Perlu menyusun materi yang sesuai dengan keadaan. Kalau perkiraan kita masih fifty-fifty, ya kita perlu persiapan menghadapi kejutan itu.
5. Apakah materi kita sudah relevan atau belum. Relevan disini adalah bermanfaat untuk orang lain. Bermanfaat ini pengertiannya luas tetapi hendaknya kita perlu mendesain materi setelah mempertimbangkan kepentingan orang lain, audien.
6. Apakah materi kita sudah simple atau belum. Kalau masih ruwet kita perlu cari akal untuk membuatnya menjadi materi yang mudah dipahami orang lain. Kata Einstein sebelum anda menyampaikan teori baru, jelaskan dulu di depan anak-anak. Kalau mereka tidak paham, teori anda masih ruwet.
7. Apakah bahan kita masih mengandung hidden context atau tidak. Hidden context di sini artinya beberapa hal yang masih tersembunyi (tidak diketahui oleh orang lain)dan bila ini tidak dijelaskan akan berpotensi melahirkan pemahaman yang kurang, entah kurang utuh atau kurang kuat.

LATIHAN SISWA

1. Apakah kamu tergolong orang yang takut berbicara di depan umum? Kenapa?
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
2. Apa saja yang harus kamu persiapkan bila harus berbicara di depan umum?
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
3. Manfaat apa saja yang kamu peroleh dengan berbicara di depan umum?
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
4. Coba jelaskan tentang prinsip, gaya dan etika kamu ketika berbicara di depan umum menurut materi diatas?
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………


Mengetahui
Nilai Guru Pembimbing





DARTAR RUJUKAN




Ubaydillah, AN. Berbicara di depan umum. E-Psikologi.com: 20 Februari 2007.


BERBICARA DI DEPAN UMUM



Konon, selain kematian, beberapa hal yang kerap ditakuti orang salah satunya adalah berbicara di depan umum. Benar nggak begitu? Banyak orang yang merasa dak-dik-duk, gemetar, bingung setengah mati ketika diminta atau punya tugas harus berbicara di depan umum.
Kebayang enggak, betapa tertekannya kita ketika merasakan sesuatu tetapi kita nggak bisa mengungkapkannya? Atau kita punya pendapat, tetapi kita enggak berani bersuara. Bagaimana cara mengatasi ketakutan bicara di depan umum? Kenapa kita harus berani berbicara? Kan pintar berbicara hanya dibutuhkan oleh teman-teman yang aktif di organisasi. Kita kan hanya orang biasa aja dan enggak minat ikutan organisasi. Apalagi punya cita-cita jadi pembicara atau penyiar radio?
Mungkin banyak dari kita yang berpikir begitu. Kita membayangkan bahwa terampil bicara hanya dibutuhkan oleh mereka yang beraktivitas di dunia yang kita anggap harus tampil ke depan. Asal tau aja semua yang kita lakukan adalah komunikasi.
Pertanyaannya adalah apakah perasaan demikian itu wajar, untuk membahas ini mari kita perhatikan hal-hal di bawah ini :
A. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk berbicara di depan umum
1. Pengalaman, siapa pun orangnya mau dia pembicara publik sekelas Indi Bareenz, Indra Bekti, Tikul Arwana atau pak ketua RT di tempat kita. Memiliki perasaan yang bisa disebut dengan bahasa dak-dik-duk ketika hendak berbicara di depan umum. Hanya memang kadar dan durasinya berbeda selain itu, jam terbang juga ikut andil besar di sini.
Orang seperti Tukul Arwana dan lain-lain tetap merasa dak-dik-duk tapi mungkin kadarnya sedikit, durasinya hanya berlangsung beberapa detik. Dengan pengalamannya dalam menghadapi publik selama ini. Rasa dak-dik-duk itu segera bisa dialihkan menjadi hal-hal yang dapat menghangatkan suasana.
2. Penguasaan materi
Kalau kita tiba-tiba ditodong untuk berbicara tanpa persiapan ini akan berpotensi membuat kita gelagapan. Bedanya, kalau kita sudah punya jam terbang tinggi, situasi dan kondisi demikian bisa kita cairkan dengan cepat. Tapi bila tidak,ini bisa membuat kita stress yang ditandai dengan keinginan untuk ke toilet, sakit perut, jantung berdetak terlalu cepat dan lain-lain.

Begitu juga kalaukita diminta berbicara tentang hal-hal yang kita sendiri tidak menguasainya. Meski kita sudah diberi waktu agak cukup untuk menyusun persiapan, tetapi kalau memang itu bukan bidang kita mau tidak mau ini kerap membikin kita bingung. Untuk orang yang sudah punya jam terbang tinggi. Kebingungan ini biasannya bisa diatasi dengan penyiasatan kreatif.
3. Audien dan suasana
Banyak orang yang merasa minder, dak-dik-duk atau bingung ketika harus berbicara di depan orang yang misalnya saja lebih senior, lebih tua, lebih pintar, atau lebih segala-galanya. Persepsi kita tentang audien juga ikut mempengaruhi. Persepsi kita tentang audien sebagai seperti macan, sementara kita mempersepsikan diri sendiri sebagai seperti kucing ya mana mungkin ada kucing yang tidak minder menghadapi macan. Jadi baik fakta dan persepsi juga ikut berperan.
Begitu juga dengan suasana setiap suasana baru membutuhkan adaptasi baru. Ini berlaku untuk semua manusia. Orang yang biasa menghadapi massa dalam jumlah kecil, butuh adaptasi baru ketika diminta untuk berbicara di depan massa yang jumlahnya banyak. Orang yang biasa mengajar di depan siswa atau mahasiswa, tetap butuh adaptasi baru ketika diminta untuk berbicara di depan masyarakat umum. Orang yang biasa berbicara dalam suasana yang alami, tetap butuh adaptasi baru ketika diminta berbicara dalam suasana yang benar-benar formal. Misalnya disorot kamera, direkam, ditayangkan melalui jaringan TV dan lain-lain.
Jadi merasa dak-dik-duk saat baru sekali atau dua kali berbicara di depan umum, saat menghadapi audien dengan segmentasi baru atau saat menghadapi suasana baru, itu semua wajar. Persiapan, penguasaan materi dan pengalaman menjadi kata kunci yang membedakan apakah kewajaran itu mengganggu atau tidak. Perlu disadari bahwa sebagai besar kita punya kepentingan untuk meningkatkan kemampuan dalam hal berbicara ini. Ini terlepas apakah kita menjadikan kemampuan ini sebagai profesi atau tidak. Kenapa? Ini karena banyak proses pekerjaan yang menuntut kita harus berbicara di depan umum (orang banyak). Misalnya presentasi, mengajar, mengarahkan melaporkan mendiskusikan dan lain-lain.

B. Prinsip, Gaya & Etika
Ada sedikitnya tiga hal yang perlu kita bedaka saat hendak berbicara di depan umum. Ketiga hal itu adalah:
1. Prinsip
Ketika disebut prinsip, maka yang dimaksudkan adalah serangkaian kaidah yang harus kita jalankan atau taati. Kalau tidak ini bakal menciptakan konsekuensi salah-benar. Beberapa prinsip umum yang perlu kita taati antara lain:
a. Visualisasi.
Ini masuk dalam persiapan. Visualisasi adalah membayangkan materi yang kita sampaikan, sistematika penyampaian, respon yang mungkin timbul dari audien, suasana yang kita harapkan untuk terjadi dan lain-lain. Untuk orang sudah punya jam terbang tinggi. Visualisasi ini barangkali cukup dilakukan dengan mengandalkan naluri atau alam bawah sadarnya. Pikirannya sudah terprogram untuk melakukan visualisasi secara otomatik. Tapi untuk pemula atau yang belum punya jam terbang tinggi, visualisasi ini poerlu dilakukan dengan cara yang khusus. Banyak yang menyarankan agar ditulis, dihafalkan, dipraktekkan dan dilakukan gladi kotor sampai gladi bersih di tempat tertentu. Misalnya kamar mandi, ruangan sepi atau kamar tidur. Terserah cara apapun yang pas buat anda, tetapi prinsipnya visualisasi ini harus dilakukan. Bahkan ada pengalaman saya yang mungkin bisa dijadikan pelajaran.
b. Tahu audien
Tahu audien akan membuat kita tahu materi yang bermanfaat untuk mereka. Tidak tahu audien akan membuat kita hanya berfikir untuk diri kita sendiri, padahal kita harus berbicara di depan umum. Secara prinsip dapat dikatakan bahwa orang akan tertarik pada hal-hal yang memang bermanfaat untuk dirinya. Kalau kita hanya berbicara tentang hal-hal yang hanya menarik untuk kita tetapi tidak menarik buat mereka, wah ini bisa gawat. Tahu audien akan membuat kita tahu strategi yang pas buat kita. Ada strategi yang berbeda antara kita harus berbicara di depan orang yang lebih atas, yang sama/selevel dan yang lebih bawah. Strategi ini akan kita temukan kalau kita tahu siapa audien kita. Kelompok mana audien kita, orang seperti apa audien kita dan seterusnya.

2. Gaya
Gaya adalah seni bagaimana kita mempresentasikan atau mengekspresikan materi. Gaya ini biasanya terkait dengan konsekuensi enak dan tidak enak. Bagi kita yang tidak memilih profesi sebagai public speaker, gaya ini mungkin bisa penting dan bisa tidak. Gaya ini biasanya selalu berubah, tergantung pengalaman, selera, jam terbang, penguasaan, kepribadian, karakter personal dan lain-lain.
Meski gaya ini variatif dan suka-suka kita memilihnya. Tetapi ada semacam rambu-rambu umum yang perlu kita perhatikan, ini antara lain:
a. Berbicara ngelantur kemana-mana
Ibarat masakan terkadang kita butuh bumbu-bumbu yang ikut menambah kenikmatan dan kelezatan. Tapi bila bumbunya ini terlalu banyak, nasib menunya bisa lain. Begitu juga dengan berbicara. Terkadang kita butuh bumbu-bumbu misalnya data, dalil, humor dan lain-lain. Tapi bila itu kebanyakan, ini akan mengalahkan materi utama yang ingin kita sampaikan. Apabila misalnya ngelantur itu mengkorupsi waktu orang lain, silahkan bergaya apa saja tetapi jangan sampai ngelantur.
b. Berbicara terlalu cepat atau terlalu lambat.
Terlalu cepat dapat membuat audien tidak mengerti dan tidak bisa mengikuti jalan pikiran dan materi yang kita paparkan. Jika ini menyangkut angka atau tanda penting ini bisa membuat orang ngelamun atau kurang semangat mengikuti kita. Idealnya kita perlu memperkirakan antara 80-100 kata dalam satu menit.
c. Suara terlalu tinggi atau terlalu rendah
Jangan meninggikan suara sampai dapat mengganggu audien tetapi juga jangan terlalu merendahkan suara sampai tidak jelas didengar. Sebisa mungkin kita perlu mengatur nada, irama dan tekanan, artinya ada beberapa hal yang perlu kita keraskan, datarkan dan rendahkan. Untuk yang sudah punya jam terbang tinggi ini biasanya terjadi secara otomatik. Tetapi untuk pemula, ini perlu kita latih dalam visualisasi.

d. Terlalu banyak gerak atau terlalu diam.
Gaya apapun yang kita pilih, itu suka-suka kita. Tetapi hendaknya kita perlu menghindari praktek overacting atau underacting (terlalu dia) sehingga terkesan seolah-olah tidak ada interaksi antara kita dengan audien. Karena itu ada saran agar kita bisa menatap satu persatu dalam hitungan detik supaya muncul interaksi.
3. Etika
Etika ini terkait dengan kepantasan dan ketidakpantasan; kesopanan dan ketidaksopanan. Beberapa hal yang sering dianggap etika umum dalam berbicara di depan publik itu antara lain :
a. Salah menyebut orang atau menyebut orang dengan sebutan/sapaan yang berpotensi dirasakan tidak enak, misalnya ibu yang gendut itu, mas yang kurus itu. Akan lebih baik kalau kita menyebut namanya saja ditambah dengan kata-kata yang memuliakan seperti pak, bu, mas.
b. Memberikan contoh yang menyinggung atau menyakiti orang terutama dari audien. Pilihlah contoh anekdot atau kiasan yang kira-kira dapat membantu penjelasan kita tetapi juga perlu kita pikirkan efeknya bagi orang lain.
c. Menganggap audien sebagai orang yang bodoh dan menganggap kita lebih jago. Ini biasanya tidak kita ucapkan lewat mulut, tetapi kita praktekkan melalui tanggapan atau penjelasan. Di depan orang banyak pertanyaan seperti apapun perlu kita tanggapi secara bijak dan dengan logika yang positif. Untuk menekan perasaan demikian hindari motif-motif untuk menonjolkan diri misalnya ingin dianggap orang hebat, orang pintar dan lain-lain. Batasi pikiran hanya berkesimpulan bahwa di situ kita hanya menjelaskan sesuatu dan bila ada yang kurang kita perbaiki.
d. Jauhi mannerisms, seperti garuk-garuk kepala, merapikan baju, mengusap muka, hidung, telinga, melihat dari atau sepatu dan lain-lain. Intinya kita perlu mengkondisikan diri se-informal mungkin tetapi perlu menghindari hal-hal kecil yang berpotensi dianggap sebagai ketabuan atau ketidakpantasan.




C. Tip Perbaikan
Ada sejumlah tip yang perlu kita terapkan sebelum naik bicara, antara lain:
1. Apakah materi yang akan kita jelaskan itu akurat atau belum. Lebih-lebih juka menyangkut soal angka atau uang. Presiden bambang Yudhoyono pernah diprotes berhari-hari karena catatan: menurut versi pemrotes beliau membacakan data kemiskinan yang tidak akurat.
2. Apakah materi yang akan kita sampaikan itu sudah jelas atau belum. Jelas di sini artinya menutup celah kesalahpahaman (misunderstanding)atau salah tafsir (misinterpretation).
3. Apakah materi yang kita sampaikan itu mengena atau tidak. Mengena di sini sesuai dengan tujuan. Kalau yang kita maksudkan itu tindakan. Ya perlu diarahkan pada tindakan. Begitu juga kalau yang kita inginkan adalah penjelasan, pemahaman, pemikiran atau keadaa. Ini perlu kita cek agar bisa mengena sasaran.
4. Apakah cocok dengan keadaan atau tidak. Protes penolakan dan reaksi emosional memang kerap kali muncul tetapi hendaknya kita perlu menyusun materi yang dapat menghindarkan kita dari situasi demikian. Perlu menyusun materi yang sesuai dengan keadaan. Kalau perkiraan kita masih fifty-fifty, ya kita perlu persiapan menghadapi kejutan itu.
5. Apakah materi kita sudah relevan atau belum. Relevan disini adalah bermanfaat untuk orang lain. Bermanfaat ini pengertiannya luas tetapi hendaknya kita perlu mendesain materi setelah mempertimbangkan kepentingan orang lain, audien.
6. Apakah materi kita sudah simple atau belum. Kalau masih ruwet kita perlu cari akal untuk membuatnya menjadi materi yang mudah dipahami orang lain. Kata Einstein sebelum anda menyampaikan teori baru, jelaskan dulu di depan anak-anak. Kalau mereka tidak paham, teori anda masih ruwet.
7. Apakah bahan kita masih mengandung hidden context atau tidak. Hidden context di sini artinya beberapa hal yang masih tersembunyi (tidak diketahui oleh orang lain)dan bila ini tidak dijelaskan akan berpotensi melahirkan pemahaman yang kurang, entah kurang utuh atau kurang kuat.

LATIHAN SISWA

1. Apakah kamu tergolong orang yang takut berbicara di depan umum? Kenapa?
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
2. Apa saja yang harus kamu persiapkan bila harus berbicara di depan umum?
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
3. Manfaat apa saja yang kamu peroleh dengan berbicara di depan umum?
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
4. Coba jelaskan tentang prinsip, gaya dan etika kamu ketika berbicara di depan umum menurut materi diatas?
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………


Mengetahui
Nilai Guru Pembimbing





DARTAR RUJUKAN




Ubaydillah, AN. Berbicara di depan umum. E-Psikologi.com: 20 Februari 2007.

0 Response to "BERBICARA DI DEPAN UMUM"

Poskan Komentar